Paraphrase ( Kita Bukan Siapa-Siapa lagi )

Jadi begini, malam ini aku benci segala hal tentang dirimu. Tentu kau tak ingin tahu dan tak mau tahu tentang dosa-dosamu, tapi aku ingin menulisnya, agar ketika kau sendirian dan tak punya apa-apa selain penyesalan, kau bisa membacanya.
1.
Kau telah memecahkan bola cahaya yang kugantungkan di atap, yang orang-orang lebih suka menyebutnya sebagai bulan. Menghancurleburkannya seperti debu, lalu menaburkan serbuk-serbuknya ke bumi, seperti salju. Orang-orang susah bernapas. Udara berubah menjadi senyawa logam. Malam makin pekat, seperti kopi kental. Pohon-pohon, binatang ternak, bahkan babi-babi hutan buta.
Malam mati, cintamu yang mati.
2.
Entah apa yang ada di benakmu, saat langit kau gunting menjadi potongan-potongan kecil. Lebih kecil dari potongan tiket bioskop. Menghamburkannya seperti anak kecil yang bermain pasir. Lalu tanpa perlu menunggu lama, atmosfer berlubang. Benda-benda langit jatuh seperti gerimis saja. Ah, bukan gerimis, tapi hujan. Bola-bola api sebesar kepalan tangan melesat dari angkasa. Jatuh ke laut, jatuh ke sawah-sawah, jatuh ke hutan. Hutan yang tak pernah tersentuh telapak tangan kotor manusia itupun akhirnya terbakar. Pohon-pohon menjadi arang, sebagian lagi berjatuhan. Tumbang. Rusa, monyet, dan harimau melarikan diri ke kota. Kota yang hancur. Selebihnya daging panggang tanpa bumbu.
Hutan jadi lautan arang, kau yang kita relakan hilang.
3.
Laut kau anggap seperti sebuah mangkuk berisi air saja. Kau angkat laut serta isinya setinggi satu kaki di atas kepalamu, kau balikkan isinya seperti saat kau membalik sebuah telor goreng di wajan, agar matangnya merata. Air tumpah. Ikan-ikan bergeleparan di jalan. Rumah-rumah hanyut seperti perahu kertas, sebagian lagi hancur tertimpa karang. Air seperti wanita mabuk di klab malam. Jalannya tak tegak, limbung, menabrak apa saja yang dilewatinya. Menghancurkannya.
Laut berantakan, kau tak pernah ingin ditemukan.
4.
Untuk sebuah kalimat yang sederhana kau hanya butuh tiga kata saja. Tiga kata yang lebih dahsyat dari hujan meteor, atau tsunami, atau El Nino. Kau hanya perlu mengucapkannya di depanku, tanpa ekspresi bila perlu, lalu bumi tertahan berputar selama enam puluh detik saja. Matahari jatuh, planet-planet jatuh. Bima Sakti lebur hingga aku tak punya definisi yang pas lagi untuk menggambarkannya.
Semesta hanya tinggal mitos, dan kita bukan lagi siapa-siapa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: