Satu Kesempatan

Pernahkah kamu berpikir, mungkin saja aku sudah mencintaimu mulai dari kemarin dan kemarinnya lagi dan kamu tak menyadarinya?

Kami bersahabat baik, berteman begitu dekat. Hingga kami tak lagi tahu, seberapa jauh jarak yang telah kami tempuh dalam perasaan kami masing-masing. Dia membantuku meniup lilin ulang tahun sejak bilanganku masih lima. Hingga kini, aku membantunya meniup lilin ulang tahun saat bilangannya menginjak dua puluh lima.

Aku punya kekasih pun dia telah memiliki seorang calon istri. Dua bulan yang lalu dia melamar perempuan itu. Dan tepat dua bulan yang lalu aku menangis semalaman di kamarku. Entah apa yang menjadi alasanku bersedih. Aku pun benar mencintai kekasihku. Namanya Laundra, dia seorang Dokter dan aku seorang Arsitek taman. Kami bahagia, berlibur di setiap akhir pekan seberapa pun sibuknya kami. Kami pun selalu menikmati setiap ciuman kami di setiap senja yang kami temui. Merekatkan pelukan manja di setiap perpisahan ruang waktu yang akan kami hadapi.

Perempuan itu bernama Gendhis. Matanya sipit dan wajahnya oriental sempurna. Tubuhnya tinggi semampai dan kulitnya sehalus sutra. Jandra bilang, dia suka perempuan sipit. Sedang aku, kalau pun bisa sipit ya cuma ketika aku tertidur. Mengantuk pun, mataku masih tampak bulat sempurna. Gendhis seorang guru musik di sebuah SMA terkenal di kota ini. Dia pandai bermain biola dan bass. Sedang aku, satu kunci gitar pun aku tak paham harus meletakkan jariku di mana. Jandra bilang, dia suka perempuan yang suka kegiatan luar ruang, panjat tebing adalah hobi Jandra dan Gendhis. Sedang aku, kalau pun mau mencoba aku phobia ketinggian. Naik eskalator saja aku masih sering keringat dingin.

Jandra dan Gendhis. Takdir memang menggariskan mereka berjodoh.

*** Kami bersahabat baik, berteman begitu dekat. Hingga kami tak lagi tahu, seberapa jauh jarak yang telah kami tempuh dalam perasaan kami masing-masing. Aku membantunya meniup lilin ulang tahun sejak bilangannya masih lima. Hingga kini, dia membantuku meniup lilin ulang tahun saat bilanganku menginjak dua puluh lima.

Dia punya kekasih sedang aku telah memiliki seorang calon istri. Dua bulan yang lalu aku melamar perempuan itu. Dan tepat dua bulan sudah aku menyesali keputusan yang kuambil ini. Entah apa yang menjadi alasanku meneyesalinya. Aku pun benar mencintai kekasihku. Namanya Gendhis, dia seorang guru musik di sebuah SMA dan aku seorang Staf Muda di Lembaga Antariksa. Kami bahagia, selalu menyempatkan diri menjalani hobi panjat tebing bersama kami setiap kali akhir minggu menyapa. Aku menikmati setiap lumat ciuman yang kuberikan di bibirnya, pun selalu enggan melepas pelukan setiap kali jarak dan waktu memaksa kami tak bersama untuk beberapa masa.

Pria itu bernama Laundra. Matanya sebiru langit dan di wajahnya tergaris ras Aria sempurna. Tubuhnya tinggi atletis dan kulitnya bersih. Nasha bilang, dia suka pria keturunan. Sedang aku, Jawa tulen dengan tubuh jauh dari atletis. Kalau pun lancar berbahasa Inggris suaraku tetap saja medhok. Setampan apa pun aku pernah dipuji, Laundra tetap saja mampu menggeserku dengan sekedipan mata. Laundra seorang Dokter muda yang bekerja di Rumah Sakit terkenal di kota ini. Dia pandai menulis dan telah menerbitkan beberapa buku. Sedang aku, menulis sebait puisi pun tak pernah mampu. Nasha bilang, dia suka pria yang pandai mengobati luka. Sedang aku, walau pun ingin membantu aku phobia darah. Jangankan mengobati luka milik Nasha, melihat darah milikku sendiri saja, aku masih sering keringat dingin.

Laundra dan Nasha. Takdir memang menggariskan mereka berjodoh.

***

“Dulu sekali, saat kita masih berusia 10 tahun, kamu pernah melamarku dengan cincin dari jerami di ladang ini.” Nasha menerawang pandangannya jauh ke angkasa.

“Ya, dan Laundra baru saja melamarmu minggu kemarin dengan cincin dari permata.” Aku tertawa lirih di ujung kalimatku, tapi Nasha bergeming dari pandangannya ke angkasa.

“Saat kamu melamarku dulu dengan cincin jerami, itu pun hari minggu seperti ini. Minggu siang yang cerah dan kamu membocengku dengan sepedamu yang baru.” Pandangan Nasha semakin jauh menerawang ke angkasa.

“Laundra begitu tampan, anak kalian nanti pasti lucu sekali.” Aku mencoba mengalihkan topik, tak begitu suka mengingat hari-hari indah saat pertemanan kami tak serumit detik ini. Saat setiap tawa adalah tawa yang sebenarnya. Bukan tawa yang menjadi tempat persembunyian sakit hatiku.

“Kamu lihat kalungku ini, yang ada di dalam tabung kecil ini adalah jerami yang sama yang pernah kamu sematkan dulu di jari manisku.” Nasha mengalihkan pandangannya dari angkasa menuju tepat ke kedua mataku, tersenyum begitu manis dengan mata yang begitu sedih— entah karena apa. Padahal dia adalah gadis paling bahagia di dunia ini, setelah dilamar seorang pria impiannya Laundra minggu lalu. Memelukku penuh semangat sembari menceritakan kejadian bagaimana Laundra berlutut memintanya menikah. Sedang si pengecut aku hanya mampu terpaku menatap kalung yang selalu menggantung di lehernya itu. Kalung yang dia pernah bilang hadiah ulang tahun dari almarhumah Ibunya. Semilir dingin getir melewati hatiku detik ini, merambat cepat ke kelopak mataku dan membuatnya panas seketika.

“Kamu bahagia dengan pernikahanmu Jandra?” Nasha tiba-tiba melempar sebuah pertanyaan yang menghunus tepat di jantungku, yang mungkin seumur hidup pun tak akan pernah mampu aku jawab untuknya.

“Ah ya, kalian pasti sangat bahagia. 2 bulan lagi anak pertama kalian lahir bukan.” Nasha melempar kembali pandangannya ke angkasa dan menjawab pertanyaan yang baru saja dia ciptakan sendiri.

“Aku akan memberi nama anak itu Nasha.” Ujarku. Aku memang sudah meniati ini dari semenjak entah kapan. Tak bisa memiliki hati sahabat yang begitu kucintai ini, setidaknya aku bisa terus memanggil namanya seumur hidupku. Ada tak ada lagi dia nantinya.

“Jangan, nanti dia lemah sepertiku. Perempuan yang bahkan tak pernah berani patah hati.” Nasha kembali menolehkan pandangnya ke arahku.

“Jangan beri nama dia Nasha.” Nasha mengulang kalimatnya lemah.

Dan aku hanya sanggup terdiam.

Hening…

“Jandra, bagaimana kalau kita kembali ke hari pertama kita bertemu, lalu mengucap selamat tinggal sebelum kita sempat saling mengenal.” Nasha bergumam, seperti ditujukan lebih pada udara.

“Kenapa?” Aku merasa heran dengan sebaris kalimat sederhananya, yang entah mengapa terdengar begitu menyakitkan untukku.

“Entahlah, tiba-tiba terpikir begitu saja. Sepertinya segalanya akan jauh lebih mudah jika bisa melakukan yang demikian. Ayo, kita pulang.” Nasha turun dari atas tumpukan jerami yang kami duduki sejak tadi. Berjalan pulang tanpa menungguku. Tanpa sempat melihat air mata yang begitu saja mengalir di pipiku detik ini karena sebaris kalimat tadi.

Cukup ada satu Jandra pengecut di atas dunia ini. Cukup ada satu cinta yang tak bisa bersama. ***

3 minggu setelah kejadian itu Nasha pun menikah dengan Laundra. Pesta pernikahan yang begitu manis dan berhasil mematahkan hatiku. Dua bulan setelahnya, entah karena apa mereka memutuskan untuk pindah ke Paris, tanah kelahiran Laundra. Nasha bahkan baru memberitahuku sehari sebelum keberangkatan mereka. Itu pun hanya melalui sambungan telepon. Aku dengar Nasha telah hamil muda saat mereka berangkat ke Paris.

Aku tahu Nasha bahagia. Dengan segala status Facebook dan foto-foto yang Laundra upload di blognya, aku terus mengamati perkembangan mereka. Walau pedih hati setiap kali melihat senyum yang tersungging di wajah Nasha. Semenjak menikah, aku lihat Nasha tidak lagi mengenakan kalung yang dia tunjukkan padaku di ladang. Padahal lebih dari 15 tahun dia sudah mengenakannya. Bahkan masih mengenakannya di hari pernikahannya dulu. Anak Nasha lahir dan bertapa terkejutnya aku ketika dia menamai anak itu dengan namaku. Padahal dulu, dia jelas-jelas melarangku memakai namanya untuk putri pertamaku bersama Gendhis.

Nasha menarik diri dari kehidupan keluarga kami. Hanya sesekali bertanya kabar melalui email. Gendhis pun sempat bertanya soal ini padaku di tahun-tahun selanjutnya.

“Kenapa Nasha tidak pernah menjawab teleponku ya, Mas?” Tanya Gendhis di suatu pagi saat kami tengah sarapan.

“Mungkin nomernya ganti.” Jawabku seadanya.

“Bukan ngga nyambung, tapi ngga diangkat.” Gendhis memperjelas situasi, yang padahal sudah jadi ganjalan di hatiku beberapa tahun belakangan ini.

“Coba kirim email saja. Mungkin dia sibuk Nduk.” Aku kembali menjawab seadanya.

“Memang dia tidak pernah meneleponmu?” Ya, tentu saja Gendhis bukan tipe perempuan yang akan puas dengan jawaban seadanya. Berbeda dengan Nasha yang simple, Gendhis selalu saja mempersoalkan hal-hal printil macam begini. Dan entah dimulai sejak kapan aku jadi suka membandingkan mereka berdua.

“Tidak. Aku berangkat dulu ya. Nanti Nasha biar Mas yang jemput dari tempat les. Hari ini agak longgar di kantor.” Aku memilih menghentikan pembicaraan dan Gendhis pun mencium tanganku. Iya, kami akhirnya menamakan putri ke dua kami Nasha.

***

“Dulu sekali, saat kita masih berusia 10 tahun, kamu pernah melamarku dengan cincin dari jerami di ladang ini.” Aku menerawang jauh ke angkasa, segalanya seperti baru saja terjadi kemarin. Dulu, itu adalah hari yang begitu menyenangkan. Jandra begitu bahagia mendapat sepeda baru karena berhasil mendapat renking ke 1 di sekolah, memboncengku keliling desa dan bermain sesiangan di ladang ini. Waktu, entah bagaimana caranya bisa membuat kenangan indah itu jadi hal yang begitu menyakitkan kuingat detik ini.

“Ya, dan Laundra baru saja melamarmu minggu kemarin dengan cincin dari permata.” Jandra tertawa lirih di ujung kalimatnya.

Bukan, bukan jawaban seperti itu yang kuinginkan. Apa yang begitu lucu dari cincin permata yang tersemat di jari manisku detik ini. Bila nyatanya, hanya dia yang ada di hatiku. Aku tidak sanggup lagi melihatnya bahagia bersama Gendhis, bila aku akhirnya menikah dengan Laundra, itu adalah karena aku tidak ingin lagi melihat tawa mereka berdua.

“Saat kamu melamarku dulu dengan cincin jerami, itu pun hari minggu seperti ini. Minggu siang yang cerah dan kamu membocengku dengan sepedamu yang baru.” Desir pahit menyelimuti hatiku seketika saat mengatakannya. Aku mencoba semakin menengadah ke angkasa, menahan air mataku yang nyaris jatuh. Harus aku apakan perasaan ini. Harus aku kemanakan rasa cinta pada sahabatku ini?

“Laundra begitu tampan, anak kalian nanti pasti lucu sekali.” Jandra kembali mengatakan kalimat yang tidak ingin kudengar. Kulihat ujung matanya berair, itu pasti karena dia menahan kantuknya demi mendengar ceritaku yang membosankan ini. Jandra pun sedang mencoba mengalihkan topik pembicaraan kami, seperti yang sebelumnya kerap dia lakukan.

Aku tahu, dia tidak pernah mencintaiku. Atau bila pun cinta, aku tahu itu hanya cinta kepada sahabat perempuan yang dia bantu meniup lilin ulang tahun sejak usianya lima. Kenapa urusan hati ini menjadi begitu sulit. Kenapa mengakui rasa cinta ini tidak bisa semudah aku mengatakan, ‘Jandra besok saat kita menikah, aku akan mengenakan gaun pesta warna pink’ di usiaku 9 dulu.

“Kamu lihat kalungku ini, yang ada di dalam tabung kecil ini adalah jerami yang sama yang pernah kamu sematkan dulu di jari manisku.” Usaha terakhirku dan aku pun menatap tepat ke kedua bola matanya yang hangat dengan penuh harap. Mencoba memberi senyuman manis yang lebih kutujukan pada diriku sendiri agar bisa kuat menghadapi momen ini.

Jandra sempat terpaku menatap kalung yang tergantung di leherku selama bertahun-tahun ini. Kalau saja dia tahu, seberapa perlu kencang aku merengek pada Ibu saat meminta untuk dibelikan dulu. Hanya agar aku bisa terus membawa jerami yang pernah dia sematkan di jari manisku. Seandainya dia tahu seberapa besar pertengkaranku dengan Laundra ketika dia memintaku melepaskan kalung ini karena cemburu, itulah alasan kami sempat putus dulu. Mungkin sebaiknya dia tak perlu tahu. Mungkin sebaiknya aku melepaskan kalung ini mulai besok.

“Kamu bahagia dengan pernikahanmu Jandra?” Pikiran kalutku membuatku melepaskan pertanyaan bodoh.

“Ah ya, kalian pasti sangat bahagia. 2 bulan lagi anak pertama kalian lahir bukan?” Aku buru-buru membenahi kebodohanku barusan.

Bagai tertusuk duri ketika mengingat wajah Gendhis yang begitu oriental, yang semakin cantik saja terlihat semenjak menikah. Lalu ingatanku merambat ke bagaimana teriakan bahagia Jandra saat memelukku begitu erat ketika mengetahui berita kehamilan itu tujuh bulan yang lalu. Kalau saja dia tahu, bahwa karena perasaan ini, aku telah menolak lamaran Laundra minggu lalu. Kalau tidak karena Laundra yang kembali datang dan berlutut di hadapanku untuk memintaku mempertimbangkan kembali lamarannya, aku mungkin telah berpisah dengan Laundra detik itu. Seorang pria impian yang tak pernah sepenuhnya aku inginkan.

“Aku akan memberi nama anak itu Nasha.” Kalimat Jandra seketika memecah lamunanku. Kalau ibarat pertandingan tinju, detik ini aku sudah K.O telak oleh kata-katanya.

“Jangan, nanti dia lemah sepertiku. Perempuan yang bahkan tak pernah berani patah hati.” Aku kembali menatap Jandra hampa. Miris. Percuma saja, percuma saja usahaku sepanjang hari ini. Aku sudah berjanji pada Laundra, kalau hari ini Jandra tak juga mengucap cinta padaku, maka aku akan mencintainya di sisa usiaku. Pergi jauh dari Jandra dan memulai hidup yang baru. Kalau Jandra memang pernah mencintaiku. Dia pasti tak akan membiarkanku menikahi Laundra. Tapi, aku sendiri saja telah membiarkan Jandra menikahi Gendhis setahun yang lalu. Bahkan aku sendiri yang memasangkan dasinya hari itu. Menyebutnya tampan dan memeluknya begitu erat. Walau menangis di balik punggungnya.

“Jangan beri nama dia Nasha.” Aku kembali mengulang kalimatku lemah. Seperti kehabisan harapan.

Hening…

“Jandra, bagaimana kalau kita kembali ke hari pertama kita bertemu, lalu mengucap selamat tinggal sebelum kita sempat saling mengenal.” Aku berkata hampa pada udara.

“Kenapa?” Jandra menatapku penuh tanda tanya. Aku pun tak mengerti dengan jelas kenapa aku bisa melepas kalimat itu barusan. Mereka meluncur begitu saja dari pikiranku yang terasa pahit.

“Entahlah, tiba-tiba terpikir begitu saja. Sepertinya segalanya akan jauh lebih mudah jika bisa melakukan yang demikian. Ayo, kita pulang.” Aku memilih segera turun dari atas tumpukan jerami yang kami duduki sejak tadi. Berjalan pulang tanpa menunggunya lagi. Tak akan pernah menunggunya lagi.

Cukup ada satu Nasha pengecut di atas dunia ini. Cukup ada satu cinta yang tak bisa bersama.

*** 20 tahun kemudian…

“Ibuku bilang, kalau cinta harus katakan cinta. Atau aku akan menyesalinya seumur hidupku, sepanjang usiaku!” Jandra memandang tegas perempuan yang ada di hadapannya.

Nasha berdiri membeku di hadapan pria yang tak pernah lelah mengejarnya ini. Entah bagaimana takdir membuat sebaris kalimat itu seperti rekaman kusut yang diputar ulang di kepalanya.

“Aku mencintaimu Nasha, peduli apa aku soal kamu mencintaiku atau tidak. Mencintaimu ya harus bilang mencintaimu. Aku bukan pria pengecut. Aku pun tidak akan membiarkan perempuan yang kucintai menjadi pengecut atas perasaannya sendiri. Walau pun jawabanmu adalah tidak mencintaiku, setidaknya kamu pernah mengatakannya di hadapanku. Dan aku pernah benar-benar mendengarnya.” Ucap Jandra lantang kemudian.

“Ayah Ibuku bercerai saat usiaku 9. Aku tidak pernah percaya cinta setelahnya.” Mata sipit Nasha yang selalu memincing tajam ke arah Jandra tiba-tiba berubah sendu, lalu sebaris air turun menyeberangi pipi kirinya.

-end-

Adakalanya hidup hanya memberimu satu kesempatan untuk mencintai dia yang mencintaimu sepenuh hidupnya. Hanya satu kali.

Kosong

cangkir kosong

di atas meja dengan tatakan merah muda

gigil di siang bolong

menanti hujan jatuh dari angkasa

mendekam pilu

sebab pada lingirnya ada jejak rindu

nyaris sewarna ungu

sepekat dengan yang dinanti: kelabu

kenapa langit berkabung

namun tak jua turun hujan

serupa memendam angan

pada setiap awan mendung

terlalu lama kemarau

pekarangan kerontang

tanah retak dan daun-daun menguning risau

angin musim barat tak kunjung datang

betapa culas semesta

mengelabui musim sedemikian rupa

berulang menikam angan

menjelmakan kekosongan

namun di beranda

cangkir melulu tabah menanti

dalam hening doa

hingga langit membasahi rongga hati

–sendiri

hingga tandas segala sepi

Pemecah Paradigma

Tiada paradoks, ketika aku menyapa kesendirian. Sepi menyambut nyeri dengan rentang kedua lengan lapang, merangkul tanpa tatapan curiga, tentang muasal bercak noktah yang menyamarkan garis-maris telapak tangan yang bisa saja mencemari kebeningannya. Bayangan atau cahaya cuma soal reaksi kimia otak, aku selalu menangkap bahwa hening itu nyata, sementara distorsi adalah maut. Itulah siasat transisi senyap dengan mempertaruhkan kesadaran yang mulai menipis, sebab sepi ialah algoritma untuk pemecah keriuhan yang dangkal dan sekedar bual, dengan mendekati mati, sebagai konjungsi hukum kekekalan tawa. Terang jadi tikam, gelap menjelma angin membekap rasa getir, sementara status, hanyalah garis lintang dengan arah ke entah, atau siapa, yang tetap tak mampu menghapus noda yang terlampau merah.

Lalu tiba-tiba, matamu memancarkan sunyi yang bikin lebur segala paradigma ganjil dengan konsep kegenapan yang tunggal, begitu saja.

One Bullets

Mentari mulai tenggelam. Langit sudah berwarna kuning kemerahan. Ada sepasang kakak lelaki beradik perempuan yang tengah berlari ketepian pantai berlomba dengan ombak dan buih. Tergurat jelas binar keceriaan di raut wajah mereka berdua.
“Kakak, gendong aku dong.”
“Ah, dasar manja. Bisa jalan sendiri, kan?”
“Tapi, aku maunya digendong kakak.”
“Ngga mau!”
“Ih…, kakak pelit, bilangin mami ah.”
“Wah, coba aja kalo berani!”
*BYUR!*
“Hei, awas ya kamu! Baju kakak basah semua nih.”
“Hihihi. Habis kakak pelit. Weee!”
***
Pagi itu hujan turun dengan lebatnya. Samuel terjaga dengan mengucurkan keringat yang cukup deras, kendati di luar hujan dan cuaca cukup dingin. Untuk kesekian kalinya dia memimpikan hal yang sama, adalah ketika masa-masa indah kebersamaan dia dan keluarganya. Diliriknya jam dinding, sudah pukul delapan pagi. Padahal ini hari kerja, tetapi dia masih bermalas-malasan ogah beranjak dari tempat tidur. Semenjak kejadian sebelas hari lalu dia memang tidak pernah bekerja lagi. Dia seperti kehilangan gairah hidup, meskipun setiap hari Cinta, kekasih Samuel selalu setia menemani hari-harinya. Dengan sempoyongan dia beranjak dari ranjang, keluar kamar dan menuruni anak tangga. Kepalanya terasa berat sekali. Semalam dia menenggak minuman keras, lagi.
“Hai, kau sudah bangun?”
“…”
“Kepalamu masih sakit, Sam?” Ini, sudah aku buatkan sarapan.”
“Terima kasih. Sudah sejak kapan hujan?”
“Entahlah, tadi ketika jam setengah tujuh aku terbangun, memang sudah hujan.”
“Ah, sial! Mau sampai kapan sih hujan ini?”
“Sabar sedikit. Lagipula tidak ada gunanya kan kamu menguntit dan mengawasi Jarot dan begundalnya terus-menerus.”
“HEI! Tahu apa kau, hah?! Sudah kukatakan, jangan campuri urusanku yang satu ini!”
Cinta hanya terdiam mendengar bentakan Samuel. Percuma Cinta meladeni perdebatan dengan kekasihnya yang sedang terpuruk itu. Seusai Samuel menghabiskan sarapan yang dihidangkan Cinta, dia bergegas ke kamar mandi. Cinta hanya tercengang melihat Samuel mandi di waktu yang cukup pagi. Pasalnya sudah sepekan lebih Samuel tidak pernah mandi di pagi hari.
Ketika Samuel keluar dari kamar mandi, Cinta masih terduduk di meja makan. Cinta hanya memperhatikan gerak-gerik kekasihnya itu yang terlihat sedikit tergesa-gesa. Hingga akhirnya Samuel selesai berbenah rapih dan siap untuk berangkat, Cinta masih tidak beranjak, bergeser tempat duduk pun tak. Cinta terkejut melihat Samuel cukup rapih dengan stelan jeans hitam dan kemeja putih garis-garis biru dengan lengan panjang. Seketika menyeruak parfum Clinique Happy tatkala Samuel melintas di depan meja makan hendak ke ruang tengah mengambil kunci mobil.
“Kau mau kemana?”
“Ketempat Ramlan.”
“Ada urusan apa dengan mafia itu? Sepagi ini?”
“Bukan apa-apa, hanya obrolan ringan mengenai bisnis. Apartemennya kan jauh.”
“Mau kutemani?”
“Tidak perlu. Nanti siang jika urusan selesai aku hubungi kamu, kita makan di luar, oke?”
“Hati-hati.”

“Pistol semi otomatis FN Five-seven peluru berkaliber 5,7 mm dengan Magazen box jumlah peluru sepuluh butir. Bagaimana, sesuai pesananmu, kan?” Ujar Ramlan sembari menyodorkan sebuah pistol semi otomatis. Segera diambil oleh Samuel. Diperhatikannya pistol itu secara seksama, mulai dari bentuk, Magazen box hingga sampai pelurunya.
“Amunisi Cuma ada sepuluh?”
“Ya, maaf, aku tidak bisa memberi lebih banyak lagi.”
“Baiklah, tak apa. Ini!” Samuel memberikan amplop yang berisi sejumlah uang.
“Sebaiknya jika kau ingin melakukannya, lakukan dengan cepat dan harus malam ini juga. Karna, besok pagi Jarot sudah bertolak ke Amerika.”
“Ya, lagipula hari ini adalah hari yang tepat. Adikku hari ini ulang tahun.”
“Nanti temanku yang bekerja di klub malam milik Jarot akan memberimu informasi. Berhati-hatilah, kawan.”
Seusai bercakap-cakap sebentar, Samuel langsung menuju Grand City, dia janjian dengan Cinta untuk santap siang di sana. Pistol semi otomatis yang baru saja dia beli disembunyikan di bawah jok mobil. Samuel berjalan di pelataran pertokoan East Mall Grand City menuju café tempat Samuel janjian dengan Cinta. Tiba-tiba Samuel tersentak, matanya terbelalak, dia melihat Jarot berjalan tenang di sela kerumunan dengan keluarga serta diiringi beberapa pengawal pribadi. Mendadak emosi Samuel menanjak tajam, dia nyaris tidak dapat mengendalikan emosinya melihat Jarot. “Tahan!”, tiba-tiba suara Cinta mengejutkan Samuel dari belakang. Cinta bergegas menggenggam tangan Samuel. Emosi Samuel berhasil diredam, lalu mereka berjalan menuju café yang dituju.
“Hari ini Linda ulang tahun.”
“Ya, aku tahu. Lantas, kau ingin menengok makamnya?”
“Entahlah, nggg…, kurasa tidak. Aku tidak sanggup, Cin.”
“Aku paham…,” Cinta menggenggam tangan Samuel, “sudahlah, mari kita makan siang dulu.”
***
Samuel tengah berduduk santai di beranda menikmati Wine dengan beberapa camilan, tentu juga bersama Cinta. Tidak banyak yang mereka perbincangkan, Samuel lebih banyak diam sehingga membuat cinta bingung nyaris kehabisan kata-kata. Udara malam ini sedikit lembab dengan gerimis lembut memadati angkasa. Tiba-tiba ponsel Samuel berdering, pertanda ada pesan singkat yang masuk di kotak pesannya. Lalu Samuel beranjak dari tempat duduk, menuju kedalam kamar. Cinta keheranan dengan tingkah laku kekasihnya itu, dia mengintip dari jendela beranda melihat apa yang dikerjakan Samuel, terlihat Samuel sedang mempersiapkan sesuatu, lalu Cinta melihat isi pesan di dalam ponsel Samuel yang ditinggalkan di meja beranda. “Jarot baru tiba di klub, cepatlah, sebentar lagi dia akan bertemu rekan bisnis di sini.” Begitulah isi pesan singkat itu. Dan didapatinya Samuel sedang memegang pistol, sentak Cinta berlari menuju Samuel.
“Kau mau kemana?”
“Bukan urusanmu!”
“Jelas urusanku juga! Kau mau kemana? Jangan konyol!”
“Sudah, jangan ikut campur!” Bentak Samuel. Tetapi Cinta justru berusaha merampas pistol yang dipegang Samuel.
*PLAK!*
Tangan Samuel melayang ke pipi Cinta. Cinta hanya tertunduk diam.
“Maafkan aku, tapi biar bagaimanapun aku harus pergi.”
Samuel segera menyimpan pistol di sela pinggangnya, lalu memakai jaket dan beranjak keluar kamar. Tapi tiba-tiba Cinta memegang pinggang Samuel dari belakang sambil menangis tanpa bersuara. “Kumohon, jangan pergi, jangan tinggalkan aku sendiri. Aku ngga bisa hidup tanpamu.” Jantung Samuel berdetak kencang mendengar ucapan orang yang dia cintai itu. Dia menghentikan langkahnya, terdiam sejenak, lalu berbalik arah dan mendekap tubuh Cinta.
“Maafkan aku, sayang.”
“Kumohon jangan pergi.”
“Iya, aku ngga jadi pergi.”
Samuel mengecup kening Cinta, lalu dibalas dengan ciuman yang mendarat di bibir. Bibir mereka saling berpagutan. Mereka terbuai dalam cumbuan. Tubuh mereka melebur, ruangan kamar dipenuhi dengan aroma wewangian penuh cinta. Samuel terlelap sembari mendekap tubuh Cinta yang juga terlelap dari belakang yang berbalut selimut. Nampaknya pergumulan tadi menguras banyak tenaga mereka.
Kembali ponsel Samuel berbunyi. Perlahan tangan Samuel meraba-raba keberadaan ponsel hendak mengetahui pesan apa yang ada di dalam ponselnya. Dengan mata sedikit terpejam dia membaca pesan singkat itu. “Pertemuan Jarot sudah selesai, kini dia sedang bersantai di ruangan pribadinya. Ada empat pengawal pribadi yang di dekatnya sekarang.” Tiba-tiba mata Samuel menjadi segar. Dia bangkit, mengenakan kembali pakaian yang berantakan di lantai. Dia termenung sejenak, timbang-menimbang sembari memperhatikan kekasihnya yang sedang pulas terlelap. “Maafkan aku, sayang. Ini harus kulakukan.” Samuel beranjak, mengecup pipi kekasihnya dan bergegas pergi menuju klub milik Jarot.
***
Cinta meraba-raba sisi sebelah kirinya, lalu dia terkejut mendapati tiada sesiapa. Dia segera bangkit dan panik memanggil-manggil Samuel, tapi tak ada jawaban. Kali ini dia benar-benar cemas dan panik.
Sementara itu Samuel mengendap-endap di pintu belakang klub milik Jarot, diperhatikannya sekitar, lengang dan di depan pintu belakang ada dua orang penjaga. Samuel berjalan santai seolah tak ada apa-apa. Dan ketika tepat di depan dua orang penjaga itu Samuel langsung menembakkan pistol kepada mereka, satu penjaga satu tembakan tanpa basa-basi, tepat di dada. Suara letupan pistol tersamarkan oleh suara hujan yang cukup deras. Dia bergegas menyembunyikan mayat dua penjaga itu dan masuk ke dalam gedung. Samuel nampaknya sudah cukup hapal seluk beluk gedung ini, karna dia memang telah menyusun rencana pembalasan dendam ini dengan matang-matang. Dia melewati jalan-jalan yang sepi dan tersembunyi menuju langsung ke ruangan pribadi Jarot yang sedang memperhatikan orang-orang berpesta di bawah dari kaca yang langsung menembus ke klub.
Kini jarak Samuel tinggal beberapa meter lagi dengan pintu ruangan di mana terdapat Jarot dan empat anak buahnya, dua berjaga di depan pintu. Samuel kini berjalan santai dan tidak mengendap-endap lagi.
“Hei, mau apa kau?!”
*DOR, DOR!*
Dua tembakan mengarah tepat di dada kedua penjaga itu. Samuel langsung sigap memasuki ruangan dan menembaki dua penjaga Jarot lainnya, satu terkena tembakan tepat di kepala, satu lagi meleset dan balas menembak, Samuel menghindar dan berlindung di balik sofa, tetapi tangannya terkena salah satu peluru yang ditembakkan oleh sang penjaga itu. Samuel meringis kesakitan, tapi segera membalas tembakan, tepat mengenai dada pengawal Jarot yang belum sempat berlindung. Jarot berlari lewat pintu darurat, Samuel segera mengejarnya. Karna panik, Jarot justru berlari ke arah atap gedung, hal ini justru membuat Samuel senang.
Baru saja Samuel membuka pintu atap gedung, dia sudah disambut dengan serentetan tembakan oleh Jarot yang berdiri di ujung atap. Samuel melompat dan berguling-guling sambil balas menembak, tepat mengenai paha Jarot. Jarot terjerembab dan mencoba bangkit.
“Berhenti! Atau kupastikan sekarang juga satu peluru bersarang di kepalamu!”
“Ba…baa…, baiklah. Tolong jangan bunuh aku.”
“Bah! Enak sekali kau bicara seperti itu, Jarot! Di mana perasaanmu saat membantai Ayah, Ibu dan Adikku, hah?!”
“Maafkan, maafkan aku, bukan aku yang melakukannya.”
“Memang bukan kau, tapi anak buahmu dan atas perintahmu!”
“Ayahmu menghancurkan bisnisku. Lagipula, memang bukan aku yang melakukannya.”
“Bedebah kau, Jarot. Mati kau!”
“Tidak…, hentikan, Samuel!”, tiba-tiba suara Cinta sudah berada tepat di samping Samuel.
“Cinta, mau apa kamu ke sini?”
“Aku mau menghentikanmu, sayang. Sudahlah, balas dendam pun tidak akan membuat orang-orang tercintamu kembali hidup, malah kamu bisa jadi akan semakin tersiksa. Ikhlaskan sayang, ikhlaskan.” Cinta meraih lengan Samuel.
“Tapi orang ini harus dihukum sebelum dia melarikan diri!”
“Biarkan pihak yang berwajib melakukan…, awas Samuel!”
*DOR!*
Cinta berusaha melindungi Samuel dari tembakan Jarot, Cinta terkena tembakan, tepat menembus dadanya.
*DOR!*
Samuel membalas tembakan. Peluru tepat bersarang di kepala Jarot, dia tersungkur jatuh, begitu pula Cinta.
“Cinta…, sayang, bertahan, aku segera mengangkatmu dan membawamu kerumah sakit.”
“Tidak perlu, sayang…, uhuk…, peluru ini menembus jantungku. Aku tidak mungkin selamat.”
“Tidak, kamu tidak boleh mati! Tolong bertahanlah. Apa jadinya aku tanpamu.” Samuel berusaha mengangkat Cinta.
“Sudahlah…, uhuk, uhuk…, aku sudah tidak kuat. Tolong dengarkan saja aku.”
“Tolong jangan bicara lagi, itu akan semakin membuatmu sakit. Kamu pasti bisa tertolong!”
Ketika Samuel hendak mengangkatnya, Cinta malah menggenggam erat jemari Samuel. “Dengarkan ini, mumpung sempat biar kubisikkan satu rahasia, uhuk…, aku…, aku sangat men…cintai…, kamu.” Bersamaan dengan itu mata Cinta terpejam. Dia meninggal dengan berlumur darah.
“Tidak…!”
*DOR!*

Cinta Tidak Tumbuh

cinta tidak tumbuh ketika
langit menguning langsat,
pada kemegahan
senja yang silau memukau.
cinta tumbuh di trotoar
tepi jalan di tengah hujan
dan kemacetan, perpotongan
jalan protokol dan tikungan sempit,
atau, pada sesak sebuah halte,
pertemuan yang canggung,
di antara raut wajah kesal dan peluh
tergelincir dari kening sampai dagu.

cinta tidak tumbuh pada kepak
sayap kupu-kupu, di antara
kembang setaman atau bunga
di dalam vas yang dirawat
saban hari. cinta tumbuh
di sela semak-belukar, dengan mitos
dan kengerian-kengerian purba,
subur pula kendati begitu
banyak volume air yang turun
dan mengalir entah dari mana gaibnya.

cinta tidak tumbuh di zona
aman, yang memberi celah
laksana lubang angin, membikin
tengkuk dingin ketika berdiam
di dekatnya. cinta tumbuh
di sela pertengkaran, pertarungan,
bahkan, di antara desing peluru
:pertempuran-pertempuran.

seperti maut,
jatuh lembut pada waktu
gerimis subuh, ketenangan pagi.
cinta tidak membutuhkan keindahan
untuk tumbuh, sebab cinta,
mutlak keindahan itu sendiri.

Rindu & Cinta

Malam yang hening. Bulan berpendar begitu anggun, pun bintang berhamburan di hamparan jumantara yang cerah. Langit malam sangat indah, ditambah dengan kerlip kunang-kunang menambah keindahan, suasana yang sangat romantis. Rindu mengusap-usap permukaan pipi Cinta sambil sesekali membelai rambutnya, sementara Cinta hanya menatap mata Rindu begitu lekat.
“Menikahlah denganku.”
“Apa?”
“Menikahlah denganku.”
“Hah?”
“Menikahlah denganku, Cinta. Apakah suaraku kurang jelas?”
“Nggg…,” Cinta hanya tertunduk tanpa menjawab pertanyaan Rindu.
“Kok ngga jawab? Kamu ngga mau nikah denganku, ya?”
“Bukan ngga mau, sayang.”
“Lalu apa? Sudah berkali-kali aku ngajak kamu menikah.”
“Aku rasa waktunya belum tepat.”
“Tapi kita kan sudah cukup lama pacaran, apa kamu ngga yakin denganku?”
“Bukan ngga yakin. Sudah ya, nikmati aja dulu malam ini. Aku ngga mau berdebat sama kamu sekarang.”

Rindu hanya terdiam. Sebenarnya dia belum puas dengan jawaban Cinta, tapi malam ini terlalu indah untuk berdebat, begitu pikirnya. Rindu dan Cinta memang sudah cukup lama menjalin asmara. Mereka bertemu sekitar satu tahun lalu di acara pernikahan seorang karib. Dan sepakat untuk menjadi sepasang kekasih satu bulan setelahnya. Rindu sangat ingin menikahi Cinta tepat usia satu tahun hubungan mereka, tapi Cinta selalu seperti menghindar. Entah karna apa. Yang pasti, mereka berdua memang saling mencintai.

***

Rindu tertegun sejenak di depan pintu rumah Cinta. Dia terdiam mendengarkan percakapan Cinta di ponsel yang entah siapa lawan bicaranya. “Kamu ke rumahku nanti aja deh, besok aja ya, soalnya hari ini pacarku mau ke sini,” suara Cinta terdengar dari balik pintu, “bukan begitu, kalau dia tau kamu ke sini, aku kan jadi bingung harus menjelaskan apa.” Rindu jadi bertanya-tanya, siapa lawan bicara Cinta. Tapi ketika Cinta menoleh, dia melihat Rindu, lantas telepon buru-buru dimatikan.
“Hei, kamu sudah lama sampe?”
“Nggg…, ngga, baru kok.”
“Kok ngga bilang, atau ketuk pintu kek.”
“Aku ngga mau ganggu kamu.”
“Ye, apaan sih kamu. Ya sudah, ayo masuk.”

Rindu memang berjanji mau ke rumah Cinta sabtu petang itu. Tidak seperti biasanya, mereka ingin menghabiskan sabtu malam di rumah saja. Biasanya sabtu malam mereka habiskan dengan berkencan di restoran, cafe, atau di tempat pariwisata sekitaran puncak. Cinta tinggal di rumah kontrakan seorang diri. Menurut yang dia ceritakan kepada Rindu, ibunya sudah meninggal, sedangkan ayahnya entah di mana. Hanya sanak keluarganya saja yang berada di kota.
“Sayang, aku belum mandi nih, aku mandi dulu ya.”
“Dasar, sudah sore begini kamu belum mandi?”
“Hehehe…, habis ini kan hari libur, jadi males.”
“Halah, bilang aja karna dari tadi sibuk telponan.”
“Apaan sih kamu! Ya udah, aku mandi dulu.”

Cinta bergegas ke belakang dengan merengut karna perkataan Rindu tadi. Sementara di hati Rindu masih berjejal tanya tentang hal tadi. Sebenarnya dia tak ingin mencurigai kekasihnya itu, tetapi dia benar-benar merasa ada yang mengganjal. Dengan perasaan yang was-was Rindu mengambil ponsel Cinta yang tergeletak di atas meja kecil di samping sofa. Dibukanya laporan panggilan terakhir dengan penuh selidik, siapa yang berbicara dengan Cinta tadi, tetapi yang tertera di layar ponsel hanya nomor tanpa nama. Merasa tidak puas, Rindu membuka kotak pesan. Dari sana dia mendapati pesan masuk dari nomor yang tadi menghubungi Cinta, “Aku mau ke tempat kamu sekarang, mau mengajak kamu ke suatu tempat, mau ngasi kamu surprise.” Sentak membuat dada Rindu sesak, dia benar-benar terbakar api cemburu. Dia jadi berpikir, hal ini kah yang membuar Cinta selalu mengulur-ulur waktu pernikahannya. Hatinya berkecamuk.

Beberapa saat kemudian Cinta keluar dari kamarnya dengan wajah yang sangat segar sehabis mandi. Rambutnya yang tergerai hitam dan masih sedikit basah membuat paras Cinta semakin terlihat cantik.
“Maaf ya, bikin kamu nunggu lama.”
“Nggg…, iya ngga apa-apa.”
“Kamu kenapa sih, sayang? Kok mukanya BT gitu? Kesel nungguin aku mandi, ya?”
“Ngga kok, tapi…,”

*cup…*

Belum usai Rindu berbicara, Cinta sudah melayangkan kecupan tepat di bibir Rindu, berlanjut dengan saling berpagut lidah. Rindu jadi terbawa suasana, pun mereka terlibat percumbuan yang dahsyat. Aroma tubuh Cinta yang wangi membuat Rindu semakin menggebu-gebu untuk mencumbu setiap lekuk tubuh Cinta. Ah, sabtu malam yang panjang.

***

“Jangan curiga dulu, Rin.” Ucap Dimas, teman rindu.
“Tapi isi SMS-nya itu, Mas, bikin aku tambah curiga.”
“Dari pada kamu menuduh yang belum tentu benar begitu, mending kamu buktikan dulu, Rin, hari ini kan orang itu mau ke rumah Cinta, pergoki aja.”
“Benar juga kamu!”
“Tapi saranku, jangan kabari Cinta terlebih dahulu kalau kamu mau ke rumahnya, langsung aja kesana.”
“Tentu, Mas, kalau aku kabari dia dulu, nanti ngga kepergok, kan. Okelah, aku segera bergegas.”

Rindu memacu sepeda motornya menuju rumah Cinta dengan sedikit tergesa-gesa. Keadaan ini sangat membuatnya tidak nyaman. Dia sangat berharap apa yang ada di benaknya tidak terjadi. Ketika sampai di dekat rumah Cinta, Rindu lekas mematikan mesin kendaraannya, dia tak ingin kedatangannya disadari oleh Cinta. Hatinya semakin membara tatkala mendapati sebuah mobil yang terparkir di depan pagar rumah Cinta. Dengan harap-harap cemas dan diam-diam Rindu memasuki pelataran rumah Cinta. Dan…, oh, Rindu terkejut bukan main menyaksikan kekasih yang sangat dia sayangi berpelukan dengan seorang lelaki dari balik kaca jendela. Hatinya bagai tercabik-cabik dan patah bagai ranting yang diterpa badai. Ingin rasanya Rindu mendobrak pintu rumah itu, tapi kakinya bergetar, seakan tak sanggup menghampiri lebih dekat lagi. Rindu langsung berbalik badan dan keluar pagar meninggalkan rumah. Sekilas Cinta melihat Rindu, lalu ia berlari keluar rumah hendak menghampiri kekasihnya itu. Tetapi ketika Cinta di depan pagar Rindu sudah menyalakan motornya.

“Rindu, Rindu…, tunggu sebentar.” Rindu menoleh sebentar, lalu segera menancap gas kencang-kencang. Melihat tingkah laku Rindu yang seperti itu Cinta yakin sekali bahwa kekasihnya sedang marah. Dia bergegas ke dalam rumah mengambil ponsel hendak menelpon Rindu, tapi tidak diangkat.
“Kak, aku permisi sebentar, ya.”
“Mau menyusul kekasihmu?”
“Iya, aku ngga mau dia salah paham, apalagi pergi dengan keadaan seperti itu, aku takut dia berbuat gegabah.”
“Ya sudah, aku antar ya.”
“Ngga usah, kak, aku naik ojek aja biar lebih cepat.”
“Okelah, kakak tungguin ya, kita kan harus bergegas ke kota menjenguk ayahmu.”
“Iya, kak.”

Cinta segera menaiki ojek, dengan tergesa-gesa menuju ke rumah Rindu. “Aku menuju rumahmu, sayang, mau menjelaskan semuanya, tungguin, jangan salah paham dulu.” Cinta mengirim SMS untuk Rindu. Ketika di tikungan ada sebuah mobil truk melaju cukup kencang dari arah berlawanan. Karna ojek yang Cinta tumpangi berada di jalur tengah, pengendaranya pun terkejut dan berusaha menghindar. Cinta yang dalam posisi baru saja meletakkan ponsel kedalam tasnya menjadi kaget dan tidak siap akan hal itu. Motor pun oleng, celakanya dari belakang ada mobil sedan yang melaju cukup kencang. Tabrakan tak bisa dihindari, motor ojek yang Cinta tumpangi tertabrak mobil sedan dari belakang. Motor terpental dan Cinta terpelanting ke tengah jalan. Lebih celakanya lagi ada pengendara motor lain dari arah berlawanan. Karna tepat berada di tikungan, pengendara itu terkejut dan tidak siap menghindar, Cinta tertabrak oleh motor itu cukup keras. Cinta sampai terpelanting ke pinggir jalan dan tersungkur. Darah mengucur deras dari kepala, hidung dan mulut. Cinta tewas seketika.

***

Sudah hampir satu jam Rindu menunggu kedatangan Cinta di rumahnya, tapi Cinta tak kunjung datang. Dengan perasaan yang semakin kesal dia pun mencoba menghubungi ponsel Cinta. Sekali, dua kali, tiga kali, tapi tiada jawaban. Rindu semakin kesal. Setelah itu ada panggilan masuk dari nomor yang kemarin Rindu lihat di panggilan masuk ponsel Cinta. Rindu menjadi berang dan langsung mengangkat ponselnya.
“Hei, kau sembunyikan di mana Cinta?”
“Tahan, dengar dulu ceritaku.”
“Aku tidak bisa bersabar. Pantas aja dia selama ini menolak lamaranku.”
“Hei, kau jangan salah paham, aku ini kakak sepupunya!”
“Bohong!”
“Hari ini kami berencana ketempat rumah ayahnya, aku baru beberapa hari lalu menemukan di mana ayahnya. Dia mau minta restu untuk hubungan kalian, baru sesudah itu dia ingin menikah denganmu.”
“…”
“Dan kau tahu? Cinta meninggal karna kecelakaan sewaktu hendak menyusul kau tadi!”
“APA?!”

Paraphrase ( Kita Bukan Siapa-Siapa lagi )

Jadi begini, malam ini aku benci segala hal tentang dirimu. Tentu kau tak ingin tahu dan tak mau tahu tentang dosa-dosamu, tapi aku ingin menulisnya, agar ketika kau sendirian dan tak punya apa-apa selain penyesalan, kau bisa membacanya.
1.
Kau telah memecahkan bola cahaya yang kugantungkan di atap, yang orang-orang lebih suka menyebutnya sebagai bulan. Menghancurleburkannya seperti debu, lalu menaburkan serbuk-serbuknya ke bumi, seperti salju. Orang-orang susah bernapas. Udara berubah menjadi senyawa logam. Malam makin pekat, seperti kopi kental. Pohon-pohon, binatang ternak, bahkan babi-babi hutan buta.
Malam mati, cintamu yang mati.
2.
Entah apa yang ada di benakmu, saat langit kau gunting menjadi potongan-potongan kecil. Lebih kecil dari potongan tiket bioskop. Menghamburkannya seperti anak kecil yang bermain pasir. Lalu tanpa perlu menunggu lama, atmosfer berlubang. Benda-benda langit jatuh seperti gerimis saja. Ah, bukan gerimis, tapi hujan. Bola-bola api sebesar kepalan tangan melesat dari angkasa. Jatuh ke laut, jatuh ke sawah-sawah, jatuh ke hutan. Hutan yang tak pernah tersentuh telapak tangan kotor manusia itupun akhirnya terbakar. Pohon-pohon menjadi arang, sebagian lagi berjatuhan. Tumbang. Rusa, monyet, dan harimau melarikan diri ke kota. Kota yang hancur. Selebihnya daging panggang tanpa bumbu.
Hutan jadi lautan arang, kau yang kita relakan hilang.
3.
Laut kau anggap seperti sebuah mangkuk berisi air saja. Kau angkat laut serta isinya setinggi satu kaki di atas kepalamu, kau balikkan isinya seperti saat kau membalik sebuah telor goreng di wajan, agar matangnya merata. Air tumpah. Ikan-ikan bergeleparan di jalan. Rumah-rumah hanyut seperti perahu kertas, sebagian lagi hancur tertimpa karang. Air seperti wanita mabuk di klab malam. Jalannya tak tegak, limbung, menabrak apa saja yang dilewatinya. Menghancurkannya.
Laut berantakan, kau tak pernah ingin ditemukan.
4.
Untuk sebuah kalimat yang sederhana kau hanya butuh tiga kata saja. Tiga kata yang lebih dahsyat dari hujan meteor, atau tsunami, atau El Nino. Kau hanya perlu mengucapkannya di depanku, tanpa ekspresi bila perlu, lalu bumi tertahan berputar selama enam puluh detik saja. Matahari jatuh, planet-planet jatuh. Bima Sakti lebur hingga aku tak punya definisi yang pas lagi untuk menggambarkannya.
Semesta hanya tinggal mitos, dan kita bukan lagi siapa-siapa.

Previous Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.